Saturday, January 9, 2010

SMU NEGERI 1 TIGARAKSA


1. Persepsi Kepala Sekolah

Kesan pertama kepala sekolah sangat negatif ketika ia ditunjuk sebagai kepala sekolah pada tahun 1996. Kepala sekolah tersebut baru saja lulus dari ujian persyaratan kepala sekolah dan telah mengikuti pelatihan untuk manajemen sekolah, peningkatan guru dan staf, peningkatan fasilitas, dan juga peningkatan peran orang tua dan siswa. Sekolah ini telah menjadi filial dari sekolah di kota hingga tahun 1994/1995 dan kepala sekolah filial tersebut kurang memberikan perhatian terhadap perkembangan fasilitas sekolah ini. Kepala sekolah yang baru telah menghabiskan waktu satu bulan untuk melakukan penilaian terhadap kebutuhan sekolah dan rencana pengembangan sebelum ia mengira akan menduduki jabatan baru. Setelah melakukan pembahasan-pembahasan dengan para guru, staf dan BP3 rencana pengembangan yang disusun meliputi kegiatan sebagai berikut: menstabilkan proses belajar/mengajar, meningkatkan administrasi, meningkatkan serta memaksimalkan penggunaan fasilitas, dan mengikutsertakan orang tua untuk dapat berperanserta dalam pengembangan sekolah.

Banyak kemajuan yang terjadi pada sekolah ini sejak kehadiran kepala sekolah ini Misalnya, jumlah rombongan belajar telah meningkat dari 4 menjadi 10 kelas, sebuah lapangan basket dan musholla telah dibangun. Guru sangat mendukung serta sangat positif terhadap perubahan yang telah terjadi. Guru lebih termotivasi dalam mengajar dan memotivasi siswa untuk dapat mempersiapkan diri melanjutkan ke perguruan tinggi2. Pertemuan guru diadakan tiga kali setiap cawu mengenai program sekolah, kegiatan guru dan masalah-masalah guru dievaluasi. Prestasi siswa baik akademik maupun non-akademik mengalami peningkatan. Siswa lebih disiplin dan sedikit terjadi perkelahian antar siswa. Orang tua juga sangat mendukung terutama dalam aspek keuangan. Mereka dapat memberikan masukan terhadap pengembangan sekolah dalam pertemuan bersama dengan kepala sekolah atau dengan para guru yang juga secara informal. Masyarakat juga memberikan dukungan moral, tetapi memiliki sumber keuangan yang terbatas.3

Kepala sekolah percaya bahwa faktor utama dari berbagai perubahan ini adalah adanya gabungan dari beberapa aspek perbedaan dalam perubahan. Pertama, lingkungannya merupakan daerah pedalaman yang terletak di luar kota yang tidak terlalu banyak gangguan pada para siswa. Ia memperhatikan bahwa para siswa di kota cenderung untuk berkelahi namun selama tak ada sekolah lain di daerah ini, hal itu tidak menjadi masalah. Kedua, dengan pelayanan manajemen yang baik, sekolah dapat memecahkan permasalahan lebih efektif. Ketiga, program yang telah dilaksanakan berlangsung dengan baik. Ini merupakan bagian dari kenyataan bahwa guru dan kepala sekolah melakukan evaluasi terhadap setiap program secara seksama sehingga dapat memberikan keuntungan sebelum dilaksanakan. Program yang menguntungkan dilanjutkan sementara yang tidak menguntungkan dikesampingkan.

Aspirasi kepala sekolah memang sangat ambisius tetapi akan dapat dicapai. Beberapa keinginannya adalah sebagai berikut:

  1. Meningkatkan jumlah lulusannya yang dapat melanjutkan ke perguruan tinggi.
  2. Mengumpulkan dana untuk mendukung program beasiswa untuk pelatihan ketrampilan.
  3. Bekerjasama dengan yayasan untuk mendukung pendidikan dalam masyarakat.
  4. Menghasilkan siswa yang merasakan sekolahnya sebagai tempat yang menyenangkan dan yang dapat menyesuaikan diri dengan baik, sehingga bila mereka lulus, mereka akan memiliki sikap yang baik.
  5. Memberikan pengaruh moral/keagamaan yang kuat untuk mengembangkan kepribadian siswa.

2. Perubahan Yang Dirasakan

a. Fasilitas

Terdapat beberapa pengembangan fisik yang cukup berarti pada sekolah. Empat ruang kelas4 yang ada telah ditingkatkan menjadi sepuluh. Laboratorium komputer telah diadakan untuk melayani siswa dengan ketrampilan sebagai persiapan mereka baik untuk kehidupan di tingkat perguruan tinggi maupun untuk keperluan industri setempat. Kegiatan siswa telah bertambah dan lapangan bola basket telah dibangun. Untuk dapat mendukung kegiatan keagamaan siswa, sebuah musholla telah dibangun. Untuk dapat meningkatkan lapangan, pagar yang kuat telah dibangun di batas perkarangan. Semak-semak dan rumput yang tinggi telah dipotong. Perabotan baru telah dibeli untuk dapat digunakan di ruang-ruang kelas baru.

Ruang kelas tambahan lainnya diperlukan untuk memenuhi permintaan jumlah siswa yang meningkat agar dapat diterima di sekolah ini dan juga untuk menghilangkan sistem dua shift. Saat ini laboratorium IPA hanya digunakan sebagai tempat peragaan bukan sebagai tempat praktek. Mereka perlu meningkatkan sumber perpustakaan dengan menambah lagi buku-buku serta surat kabar. Karena tidak ada kantin di sekolah, kadang-kadang para siswa keluar untuk makan siang. Akan sangat membantu jika diadakan sebuah kantin. Beberapa gedung ada yang perlu diperbaiki. Dan terakhir, dibutuhkan suatu sumber air yang sampai saat ini belum tersedia.

b. Kepala Sekolah

Kepala sekolah telah membuka peluang kepada para guru, orang tua dan siswa untuk dapat bebas mengungkapkan apa yang perlu diutarakan agar memenuhi kebutuhan mereka terutama dalam rangka pengembangan sekolah. Di sisi lain kepala sekolah ingin sekali meningkatkan hubungan komunikasi dengan ketua BP3 dan orang tua. Dengan membiarkan guru agar lebih kreatif, dia telah menciptakan suasana kerja yang menyenangkan. Guru lebih merasa bertanggung jawab atas pengajaran yang dilakukannya di dalam kelas.

Hal lain yang telah menjadi perhatian kepala sekolah adalah kesejahteraan guru. Telah dibahas bersama para guru beberapa hal mengenai perlunya jam tambahan mengajar. Semua tanggung jawab mengenai hal ini dilimpahkan kepada guru dan dananya didukung oleh BP3. Semua guru telah menerima sejumlah dana tambahan, tetapi bagi guru yang menciptakan program baru yang menguntungkan, kepala sekolah memberikan bonus.

c. Guru

Banyak di antara para guru yang masih sangat muda dan berasal dari Jawa Tengah. Mereka percaya bahwa pendidikan yang diberikan oleh IKIP Yogyakarta merupakan program yang sangat baik menyiapkan mereka secara profesional. Kurangnya lahan pekerjaan di Jawa Tengah telah membuat sebagian dari mereka untuk memilih bekerja di Jawa Barat sebagai tempat pilihan mereka untuk mengajar. Jiwa muda serta persepsi idealis mereka telah membawa kemampuan sekolah untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang berubah.

Kepala sekolah yang baru mendukung prakarsa guru untuk mengatasi masalah-masalah pengajaran dan bersama-sama membuat strategi untuk dapat memecahkan masalah-masalah tersebut. Keterlibatan aktif para guru dalam memecahkan masalah telah meningkatkan motivasi mereka. Ada rasa komitmen yang tinggi terhadap perkerjaan yang dihadapi dan membantu para siswa dalam belajar. Pertemuan formal antara kepala sekolah, staf administrasi dan para guru diadakan sedikitnya tiga kali dalam satu cawu untuk mengkaji ulang pelaksanaan program-program terdahulu yang dibahas dalam pertemuan yang lalu dan juga program-program baru. Keputusan telah dibuat apakah akan diteruskan atau dihilangkan.

Kekurangan jumlah guru telah menyebabkan suatu keadaan beban mengajar seorang guru yang biasanya 18 jam untuk gelar S1 bertambah menjadi 49 jam dalam seminggu. Untuk jam tambahan mengajar, guru didukung dengan dana tambahan yang telah disetujui oleh kepala sekolah dan didanai oleh BP3. Jam tambahan mengajar diperlukan guna mengajar pada shift kedua. Lagi pula disebabkan oleh kurangnya jumlah guru, maka beberapa guru tidak tetap dipekerjakan. Untuk mengajar, semua ini didanai oleh BP3. Bagi guru yang tidak mendapatkan jam tambahan mengajar, mereka dimungkinkan untuk mengajar di sekolah lain. Walaupun para guru telah menerima dana tambahan yang sangat minim, mereka diminta untuk memiliki komitmen yang tinggi untuk mendukung pembelajaran siswa.

Ketika sekolah terpisah dari kota dan kepala sekolah baru telah diangkat, ada sebuah komitmen untuk meningkatkan disiplin guru. Sejak itu, para guru telah menunjukkan kedisiplinan mereka dengan tiba di sekolah tepat waktu. Pada umumnya, guru sangat positif dan tertarik dalam membantu siswa. Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian ketidaksesuaian latar belakang pendidikan guru yang mengajar, khususnya untuk mata pelajaran Matematika dan IPA. Bersamaan dengan masalah kurangnya guru tetap telah mendapat perhatian juga masalah guru dan dana BP3.

Untuk dapat membantu siswa, guru didorong untuk berbicara dengan para siswa mengenai masalah-masalah yang mereka dihadapi. Jika diperlukan, guru mengundang orang tua untuk membahas hal-hal yang berhubungan dengan siswa. Aspek penting di sini yaitu bahwa para guru sendiri telah bekerja untuk menangani masalah daripada membiarkannya atau menyerahkannya kepada kepala sekolah. Hal ini didukung baik oleh para guru maupun orang tua.

d. Siswa

Dahulunya daerah tersebut merupakan kebun karet dan anak-anak tidak diharapkan dapat melanjutkan ke perguruan tinggi. Dengan dimulainya pembangunan perumahan di daerah tersebut, banyak keluarga yang telah mengirimkan putra-putrinya untuk bersekolah. Peristiwa tersebut telah merubah lingkungan dari daerah pedalaman menjadi daerah campuran dengan masyarakat. Anak-anak dari keluarga mampu dapat meneruskan studi mereka ke perguruan tinggi dan mempengaruhi orangtua mereka untuk mendukungnya. Peningkatan jumlah siswa yang meneruskan ke perguruan tinggi dipengaruhi oleh perubahan demografis dan sebenarnya bukan karena mutu pengajaran yang meningkat secara drastis. Hal ini bagaimanapun, telah mempengaruhi anak-anak di daerah pedesaan untuk mempertimbangkan bahwa perguruan tinggi merupakan suatu pilihan yang dapat diikuti walaupun dahulu belum terpikirkan.

Pengembangan fasilitas industri di daerah tersebut telah meningkatkan permintaan terhadap lulusan dari SMU. Lulusan SMU yang bekerja di industri tersebut akan mendapatkan penghasilan yang cukup. Secara ironis, lulusan SMU yang bekerja di industri tersebut menerima gaji yang lebih besar dari pada yang diterima para guru. Hal ini menarik siswa untuk mengikuti pendidikan di SMU.

Di bawah pimpinan kepala sekolah yang baru, disiplin siswa telah meningkat. Siswa menghadiri sekolah tepat waktu dan lebih termotivasi untuk belajar. Masukan dari siswa yang mampu telah memotivasi keinginan belajar siswa serta lebih menghargai pendidikan secara umum. Para siswa juga didorong untuk dapat meningkatkan keyakinan beragama. Salah satu contoh adalah para siswa diberi tanggung jawab untuk pengumpulan dana dalam pembangunan musholla. Seharusnya dana tersedia di BP3 untuk membangun musholla, tetapi kepala sekolah menginginkan siswanya untuk bertanggung jawab dalam kesadaran beragama sebagai seorang warga Muslim. Para siswa juga secara sukarela mengumpulkan dana dan barang-barang untuk masyarakat pada hari-hari libur keagamaan.

Mutu pengajaran yang dialami oleh para siswa kelihatannya lebih baik dari pada pengalaman mereka di SLTP. Para siswa merasa bahwa para guru memiliki pemahaman yang baik terhadap materi yang diajarkannya, lebih terorganisir dan benar-benar memiliki keinginan mengajar dalam bidangnya. Meskipun demikian, Matematika dan IPA kelihatannya menjadi persoalan.

Salah satu perkembangan yang menarik adalah pengaruh siswa di luar daerah setempat. Penerapan administrasi telah meningkat secara signifikan dari luar daerah. Masyarakat telah mengangkat persoalan yang berhubungan dengan siswa setempat yang tidak dapat bersekolah. Kepala sekolah dan para guru sepakat untuk menerima siswa yang tinggal di Tiga Raksa tanpa mempertimbangkan nilai NEM SLTP, sementara siswa dari daerah lainnya harus memenuhi persyaratan yang berlaku. Permintaan yang meningkat ini mendorong sekolah untuk dapat menambah lebih banyak lagi fasilitas sekolah.

e. Hubungan Masyarakat

Masyarakat kecil yang semula mengharapkan adanya sekolah telah mendorong adanya komitmen pemerintah untuk dapat mendirikan sebuah SMU bagi putra-putri mereka. Sebagaimana telah dinyatakan oleh salah satu tokoh masyarakat, masyarakat akan ketinggalan jauh jika tidak dibangun sekolah. Dengan adanya perubahan penduduk, sekolah merupakan jembatan antar tingkat sosial dan ekonomi yang berbeda di daerah tersebut. Oleh karena itu, masyarakat mendukung adanya perubahan yang terjadi pada sekolah. Kerjasama antara guru, orang tua dan masyarakat telah meningkat selama 3 tahun terakhir ini.

f. Orang Tua

Orang tua sangat senang dengan kemajuan yang telah dialami oleh sekolah sebagaimana mutunya telah meningkat selama tiga tahun terakhir ini. Sebelumnya para orang tua mengirimkan anak-anak mereka ke kota untuk mendapatkan pendidikan yang baik. Sekarang anak-anak dapat bersekolah di tempatnya sendiri, sehingga dapat menghemat biaya transportasi dan menghindari masalah-masalah yang dihadapi oleh sekolah-sekolah di kota5. Persepsi orang tua terhadap pendidikan telah berubah secara positif dan sekarang mereka cenderung untuk dapat mendorong putra-putri mereka melanjutkan ke SMU dan jika mungkin ke perguruan tinggi. Sebagaimana dicatat sebelumnya, perubahan penduduk telah mempengaruhi persepsi ini dengan melihat permintaan lulusan SMU di kawasan industri dan mempengaruhi keluarga yang mampu.

Kepala sekolah bekerjasama erat dengan ketua BP3 dalam meningkatkan mutu sekolah. Kepala sekolah membuat rekomendasi6 kepada ketua BP3, kemudian kegiatan-kegiatan tersebut diseleksi dalam rangka pengembangan sekolah. Semua rekomendasi telah dikomunikasikan kepada para orang tua melalui surat dan komentar serta rekomendasi dikembalikan kepada sekolah melalui siswa. Hal ini merupakan perkembangan baru untuk meningkatkan komunikasi dengan para orang tua dan membuat mereka lebih terlibat. Masalah yang kini terjadi adalah bahwa ketua BP3 tinggal di kota, hal ini menyebabkan peransertanya sangat terbatas. Diharapkan sekali agar ketua BP3 dapat lebih menyediakan waktu dan turut membantu memantau perkembangan sekolah.

BP3 memainkan peranan penting yang tidak hanya mengembangkan fasilitas sekolah, tetapi juga memberikan dana untuk mendukung permintaan akan tambahan guru. Dari ke-26 guru yang ada di sekolah, sebagian besar mereka mengajar dengan jam lebih dan didanai oleh BP3. Sebagai tambahan, BP3 membantu untuk mendukung keluarga miskin dengan memberikan beasiswa bagi sekitar 30% siswa.7 Karena krisis moneter8 sumbangan dari para orang tua menurun dalam 2 tahun terakhir. Untungnya, semangat dari keluarga-keluarga mampu dalam masyarakat telah memberikan sejumlah sumber tambahan.

3. Faktor yang menyebabkan perubahan

SMU Tigaraksa mewakili suatu keadaan yang unik yaitu sebuah sekolah baru yang dibangun dalam suasana terjadinya pergeseran besar keadaan penduduk dalam suatu lingkungan. Usaha kepala sekolah ditambah dengan kepedulian tokoh masyarakat dan semangat para guru muda telah mendukung perkembangan sekolah dengan sangat cepat. Pendekatan pemecahan masalah yang diterapkan oleh kepala sekolah telah mampu menyerapkan dan menyesuaikan terhadap perubahan lingkungan yang ada. Dukungan dari para orang tua, pemerintahan daerah dan masyarakat telah memberikan masukan untuk keperluan pengembangan sekolah. Bentuk kerjasama inilah yang membuat SMU Tigaraksa dapat meningkatkan mutu program-programnya dan menambah fasilitas untuk dapat memenuhi kebutuhan siswa dalam pendidikan mereka. Keinginan yang kuat dari kepala sekolah serta para guru dalam memenuhi kebutuhan ini merupakan suatu contoh yang menjadi ciri di dalam pengembangan sekolah.

SMA 1 Tigaraksa Pertahankan Gelar
By Lukman Aloemni 2005
Senin, 18-Februari-2008, 06:47:24225 clicksSend this story to a friendPrintable Version

TANGERANG – Anak-anak SMA Negeri 1 Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, berhasil mempertahankan gelar juara di Kejuaraan Marching Cat (competition of art) III PDBI Kabupaten Tangerang di kategori Senior A.

Ini melanggengkan gelar yang mereka raih di kompetisi serupa tahun 2006.
Marching Band (MB) SMA Negeri 1 Tigaraksa berhasil mengalahkan Marching Band (MB) SMA Negeri 2 Tangerang dan SMA PGRI Cikupa yang meraih juara kedua dan ketiga. MB SMA Negeri 1 Tigaraksa yang dinamai Gema Wahana meraih nilai 289, atau unggul tipis dari Gita Satya Brasta Duta (SMA 2 Tangerang) dengan nilai 275,5.
“Mereka tampil bagus dalam semua penilaian, mulai penampilan musim hingga penata tarian, dan pembawa bendera. Penilaian juri langsung muncul usai tim-tim beraksi,” ucap Farid, Ketua Panitia.
Sementara untuk kategori senior B (SMP), MB Madrasah Tsanawiyah Darul Irfan, Kota Tangerang, mampu meraih gelar terbaik dengan meraih 275,5. Torehan itu mengungguli unit MB SMP Persona Permata, Pasar Kemis, yang meraih poin 273,3. Posisi ketiga diduduki MB Madrasah Tsanawiyah dengan nilai 272.
Di kategori junior (SD), yang khusus mempertandingkan drumband, SD Al Azhar Bumi Serpong Damai sulit disaingi peserta lainnya asal Kota maupun Kabupaten Tangerang. Drum Band SD Al Azhar, yang bernama Gema Swara AL-BESD, meraih nilai 272 mengalahkan SD Kunciran 7 Kota Tangerang dan SDN Belimbing I, Kosambi, Kabupaten Tangerang.
“Juara favorit junior jatuh ke tangan SD Sukasari IV Kota Tangerang. Sementara SMP Persona Permata juara favorit kategori senior yang menggabungkan tingkat SMP dan SMA,” papar Farid.
Mengenai pelaksanaan pertandingan, Farid mengungkapkan rasa syukurnya berlangsung sukses tanpa ada halangan berarti. Malah ada pancaran kepuasan yang tampak dari semua peserta.
Menurutnya, semua ini karena sistem penilaian baru, “System on Air” yang membuat peserta bisa melihat hasil penilaian juri langsung di papan skor setelah mereka tampil.
“Sistem ini menekan tingginya faktor subyektivitas yag biasa terjadi di olahraga ini. Peserta berharap penilaian ini bisa digunakan pada even kejuaraan daerah maupun tingkat nasional,” timpalnya.
Penilaian ini juga diiringi zona steril bagi dewan juri. Juri dari PB PDBI tidak didampingi panitia saat melakukan penilaian. Dengan demikian, tingkat obyektivitas semakin tinggi. Ini yang menurut Farid membuat peserta puas dengan penilaian dan aksi mereka sendiri.
“Yang kalah mengakui kekalahan mereka dan bisa melihat unt lain yang tampil bagus untuk bahan evaluasi,” tandasnya. (apw)

Links

Multimedia di SMAN 1 Tigaraksa

0 comments:

Post a Comment